Mudahkan Urusan Saudaramu, Allah Mudahkan Urusanmu

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp


MEMPERMUDAH URUSAN

Resume Khutbah Jum’at: Muhammad Fatih Alfaiz


Jamaah sekalian, rahimakumullah.

Setiap kita pernah berada pada titik yang terasa sempit. Ada yang terlilit utang, ada yang rezekinya seret, ada pula yang bingung ke mana harus melangkah. Di saat seperti itu, hati kita berharap ada seseorang yang datang membuka jalan, entah dengan menangguhkan tagihan, meringankan beban, atau sekadar membantu mengurus apa yang tak sanggup kita urus sendiri. Dan di sisi lain, kita juga pernah bertemu orang yang justru mempersulit, padahal ia mampu memudahkan.

Rasulullah ﷺ menyampaikan sebuah kaidah agung tentang hal ini:

وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Dan barang siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan (dalam urusan dunia/utang), niscaya Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Perhatikan, jamaah, bahwa balasan Allah selalu sejenis dengan amal hamba-Nya. Kita memudahkan satu urusan saudara kita, lalu Allah yang Maha Kuasa mengambil alih urusan kita sendiri, bukan hanya di dunia yang singkat ini, tetapi juga di akhirat yang kekal. Hadits ini bagian dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang juga menyebut keutamaan melepaskan kesusahan seorang mukmin dan menutupi aib sesama muslim. Di akhir hadits yang sama, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya.

Ini sejalan dengan watak agama kita. Allah berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Jika Allah sendiri menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya, pantaskah kita, para hamba, justru gemar mempersulit sesama?

Lihatlah bagaimana Allah memuliakan orang yang berlapang dada. Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, ada seorang pedagang yang biasa memberi pinjaman. Bila melihat orang yang kesulitan, ia berpesan kepada pegawainya agar memberi tangguh dan memaafkan, dengan harapan Allah pun memaafkannya. Maka Allah memaafkan kesalahannya. Sedemikian murah harga ampunan bagi orang yang murah hati. Rasulullah ﷺ pun mendoakan rahmat bagi orang yang mudah ketika menjual, mudah ketika membeli, dan mudah ketika menagih (HR. Bukhari). Dari sini kita belajar bahwa kemudahan bukan sekadar kebaikan akhlak. Ia membuka pintu keberkahan rezeki dan merekatkan persaudaraan, sebab masyarakat yang terbiasa saling memudahkan akan tumbuh dalam saling percaya dan saling menyayangi.

Beginilah akhlak Nabi ﷺ yang beliau wariskan kepada kita:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu, kemudahan apa saja yang patut kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari? Mulailah dari yang paling dekat. Dalam utang-piutang, berilah tangguh kepada yang belum mampu, ringankan cicilannya, atau bebaskan sebagian bahkan seluruhnya bila Allah lapangkan. Dalam ibadah, bantulah orang lain untuk taat, jelaskan agama dengan lembut, dan jangan bersikap kaku atau gemar menghakimi. Dalam menuntut ilmu, bantulah para santri dan pelajar dengan bimbingan, fasilitas, maupun biaya, karena memudahkan jalan ilmu berarti memudahkan jalan menuju surga. Dalam muamalah, bersikaplah lapang kepada pembeli, penyewa, dan pekerja. Dalam urusan pernikahan, ringankan mahar dan biaya agar jalan yang halal tidak lebih sulit daripada jalan yang haram. Bantulah pula tetangga, musafir, dan fakir miskin dalam keperluan mereka yang baik. Dan dalam berdakwah, sampaikan kebenaran dengan cara yang menarik dan bijak, bukan dengan menakut-nakuti.

Namun, jamaah sekalian, ada satu rambu yang tidak boleh kita lalaikan: kemudahan yang dianjurkan Islam adalah kemudahan dalam ketaatan, bukan kemudahan dalam kemaksiatan. Jangan sampai semangat memudahkan membawa kita menjadi pembuka jalan bagi keburukan dan kefasikan. Allah mengingatkan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Maka janganlah kita memudahkan akses dan fasilitas bagi perjudian, pornografi, miras, dan narkoba. Janganlah kita memudahkan urusan dengan suap dan pungli, padahal Rasulullah ﷺ melaknat pemberi dan penerima suap (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Janganlah kita memudahkan transaksi ribawi atau penipuan dengan dalih “membantu”. Janganlah kita mencari-cari keringanan dalam syariat hanya demi menuruti hawa nafsu, dan janganlah kita membiarkan kemungkaran dengan alasan toleransi. Kaidahnya jelas: kemudahan dalam Islam berarti keringanan dalam ketaatan dan kelapangan bagi kebaikan, bukan pintu masuk bagi dosa.

Karena itu, marilah kita menjadi pribadi yang ringan tangan dalam membantu dan lapang hati dalam memaafkan, namun tegas dalam menjaga batas-batas Allah. Semoga setiap kemudahan yang kita berikan kepada sesama menjadi sebab Allah mudahkan urusan kita di dunia dan akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

Login Raudhatul Jannah