Ruqyah: Antara Sunnah, Tauhid, dan Syirik yang Menyamar

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Al-Qur’an: Penawar dan Rahmat 
Ada keluhan yang tak selalu bisa dijelaskan lab: dada sesak tanpa sebab, gelisah tanpa alasan, rumah tangga yang tiba-tiba retak tanpa pemicu jelas. Banyak yang lari ke dukun, jimat, atau “orang pintar”. Padahal jauh sebelum itu semua populer, Rasulullah ﷺ sudah mengajarkan solusinya: ruqyah. Beliau sendiri meruqyah para sahabat, bahkan meruqyah dirinya di saat sakit menjelang wafat. Ruqyah bukan praktik baru, bukan pula sekadar tren spiritual — ia Sunnah yang autentik.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” — QS. Al-Isra’: 82

Tauhid, Syarat Mutlak sebelum Merapal Ayat
Namun ruqyah bukan sekadar rangkaian bacaan Al-Qur’an yang dilafalkan asal benar makhrajnya. Pondasi utamanya adalah tauhid — keyakinan bahwa hanya Allah yang menyembuhkan, dan ayat-ayat-Nya hanyalah sebab, bukan sumber kekuatan itu sendiri. Peruqyah yang lurus aqidahnya akan senantiasa mengembalikan hasil kesembuhan kepada Allah, bukan kepada dirinya, bukan pula kepada jimat atau media tertentu. Tanpa tauhid yang kokoh, ruqyah bisa tergelincir menjadi sarana kesyirikan yang dibungkus ayat suci.

Ruqyah: Dakwah menjaga Aqidah
Menariknya, ruqyah sering menjadi pintu hidayah. Banyak orang yang jauh dari agama justru mulai mengenal Allah setelah merasakan ketenangan saat diruqyah dengan cara yang syar’i. Di titik itulah ruqyah bukan sekadar terapi, tapi sarana dakwah tauhid — momentum mengenalkan bahwa penyembuh sejati hanyalah Allah, bukan bacaan, bukan orangnya, dan bukan benda atau obat apa pun.

Dua Wajah Ruqyah
Sayangnya, istilah “ruqyah” kini sering disalahgunakan. Ruqyah syar’iyyah menggunakan ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ, dengan bahasa yang dipahami, tanpa unsur kesyirikan, dan meyakini Allah semata sebagai penyembuh. Sebaliknya, ruqyah syirkiyyah memakai mantra tak jelas maknanya, meminta bantuan jin, memakai jimat, atau menyandarkan kesembuhan pada kekuatan selain Allah. Sekilas mirip, tapi akibatnya bertolak belakang: satu mendekatkan pada Allah, satu lagi menjerumuskan pada dosa terbesar.

Dosa yang Tak Diampuni
Dosa terbesar itu adalah syirik. Allah berfirman bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa syirik jika pelakunya mati dalam keadaan belum bertaubat, sementara dosa-dosa lain masih mungkin diampuni (QS. An-Nisa ayat 48). Ini bukan ancaman kosong — syirik adalah kezaliman paling besar karena menyamakan makhluk yang lemah dengan Allah yang Maha Kuasa. Karena itu, waspada terhadap syirik bukan pilihan, tapi kewajiban setiap muslim.

Syirik yang Menyamar dalam Rupa Agama
Yang membahayakan, syirik tidak selalu tampil terang-terangan. Ia sering menyusup lewat ritual yang tampak islami: jimat berbalut ayat, wirid dengan bilangan “keramat” tanpa dalil, hingga keyakinan bahwa benda tertentu bisa menolak bala dengan sendirinya. Karena berbungkus simbol agama, banyak yang tak sadar telah terjerumus. Di sinilah ilmu menjadi benteng — tanpa memahami batas syar’i, seseorang bisa merasa beribadah padahal sedang berbuat syirik.

Doa Terlindungi dari Syirik
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ yang bersabda kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh syirik itu lebih samar daripada langkah semut. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika engkau ucapkan, akan hilang darimu syirik yang kecil maupun yang besar?” Lalu beliau mengajarkan doa ini,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” — HR. Bukhari.

Ikhtiar Edukasi Ruqyah Santri
Menjawab kebutuhan ini, Santri Tahfidz Raudhatul Jannah telah mengikuti Pelatihan Ruqyah Syar’iyyah pada Senin–Selasa, 7–8 September, dibimbing langsung oleh Ustadz Jamaluddin hafizhahullah, seorang ahli sekaligus praktisi ruqyah syar’iyyah. Harapannya, para santri tidak hanya memahami tata cara ruqyah yang benar, tapi juga mampu menjaga kemurnian tauhid di tengah maraknya praktik yang menyimpang — menjadi penjaga akidah umat, bukan sekadar penghafal bacaan.

Login Raudhatul Jannah